Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Biarlah Semua Telah Usai

Carikan aku tempat yang luas, seluas langit Agar aku dapat berteriak dengan keras, mengeluarkan seluruh rasa yang tak lagi mampu untuk ku pendam. Atau carikan aku tempat yang gelap, segelap dasar samudra Agar aku dapat menangis dengan bebas, menumpahkan segala rasa yang tak sanggup lagi untuk ku simpan. Dan datangkanlah kepadaku hujan deras Agar airmataku tersamarkan oleh setiap tetes rintikannya dan isakku tak terdengar sebab gemuruh petirnya. Sebab nyatanya semakin banyak yang ingin ku ucapkan, semakin tak satu pun kata dapat aku utarakan. Dan meskipun telah ku perjuangkan agar dapat aku tuangkan, nyatanya tak ada wadah yang mampu untuk menampungnya. Lalu aku memilih untuk diam, mengenang dengan tujuan untuk melupakan. Karena merelakan lebih menyesakkan, dari pada menghapus memori yang tak sepantasnya dikenang. Biarlah, semua telah usai. Berlalu terhapus waktu, hilang tertiup angin. -aruyasalsa-

Detik-detik

Bukankah seharusnya tidak ada perpisahan diantara kita setelah semua hari yang kita lalui bersama-sama? Aku tau, dulu di awal kita bertemu, seharusnya aku telah bersiap. Bersiap untuk merelakanmu pergi dalam keadaan apapun. Tapi ternyata? Aku terlalu lalai, terbuai dalam setiap canda dan tawa. Bahkan aku terlampau sedih, tersimpuh saat datangnya duka dan lara. Dan sebentar lagi. Hanya tinggal menghitung hari. Semua hanya akan menjadi memori. Seandainya engkau mengerti, aku hanya takut. Takut untuk kembali merasakan kehilangan. Meskipun aku tau, pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan. Tapi, bukan kah aku masih pantas untuk ingin tak lagi merasakan kesepian? Seandainya waktu itu terulang kembali Percayalah aku akan memilih untuk tidak mengenalmu. Atau aku akan tetap mengenalmu. Tapi  bukan dengan akhir yang seperti ini. Terserah, kamu bebas mengumpatku wanita egois, memang begitu kenyataannya. Sebab seandainya kau tau, hati ini terus menerus merindu. Nyatanya...