Detik-detik
Bukankah seharusnya tidak ada perpisahan diantara kita setelah semua hari yang kita lalui bersama-sama?
Aku tau, dulu di awal kita bertemu, seharusnya aku telah bersiap.
Bersiap untuk merelakanmu pergi dalam keadaan apapun.
Tapi ternyata?
Aku terlalu lalai, terbuai dalam setiap canda dan tawa.
Bahkan aku terlampau sedih, tersimpuh saat datangnya duka dan lara.
Dan sebentar lagi.
Hanya tinggal menghitung hari.
Semua hanya akan menjadi memori.
Seandainya engkau mengerti, aku hanya takut.
Takut untuk kembali merasakan kehilangan.
Meskipun aku tau, pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan.
Tapi, bukan kah aku masih pantas untuk ingin tak lagi merasakan kesepian?
Seandainya waktu itu terulang kembali
Percayalah aku akan memilih untuk tidak mengenalmu.
Atau aku akan tetap mengenalmu.
Tapi bukan dengan akhir yang seperti ini.
Terserah, kamu bebas mengumpatku wanita egois, memang begitu kenyataannya.
Sebab seandainya kau tau, hati ini terus menerus merindu.
Nyatanya, masih ada namamu yang tertulis di hatiku.
Dan semua hanya karena rasa ini yang terlalu dalam terhadapmu.
Di detik-detik ini, aku hanya bisa diam menunggu, menanti.
Akan kah sehangat langit senja atau sedingin angin malam perpisahan kita nanti ?.
Di detik-detik rindu.
-Fe with ars🙊-
Komentar
Posting Komentar