Teruntuk : Mentari Penghapus Luka Pelukis Lara


Mungkin semua hanya perihal waktu. Meskipun telah selama ini berlalu, sepertinya semua tak kunjung terhapus dari memoriku. Bahkan, semakin hari semua semakin rancu. Harus sekuat apa lagi aku? Harus berbuat seperti apa lagi aku? Mungkin definisi bertahan tak hanya perihal tentang menunggu kabarmu, namun juga tentang kesabaranku untuk kehilangan sosokmu, begitu? Definisi berjuang juga bukan hanya tentang bertahan menunggumu, namun juga tentang berjuang untuk melupakanmu? Bukan kah harusnya seperti itu?


Dunia memang cukup adil sepertinya… Ada hitam ada putih, ada angin ada api, ada yang harus diterima kedatangannya seperti fajar, dan ada yang harus diikhlaskan kepergiannya seperti senja. Oh ayo lah… Aku tidak sekuat langit untuk menyambut kedatangan dan merelakan kepergian mentari sesering itu, berhenti lah menjadi sosok mentari itu dalam hidupku! Aku mohon… Kau pikir apa aku? Terlalu besarkah gengsi yang menyarang di dadamu? Terlalu risihkah dengan semua kelakuanku? Maaf saja, begini lah aku, sosok kecil yang tak bisa berhenti memikirkanmu. Mengkhawatirkan keadaanmu yang baik-baik saja mungkin telah menjadi hobiku. Bahkan hingga aku mengesampingkan rasa tak perdulimu dan usiranmu, andai saja engkau tau. Pikirkan saja bagaimana aku bisa menerima semua hal yang orang lain katakan perihal cara lainmu memperdulikan aku bila aku harus menerima semua kenyataan yang berlawanan dari sikapmu?

Hahaha. Dasar. Sepertinya aku memang gadis yang terlalu murah untukmu. Bahkan  Nampak-nampaknya aku hanya si mungil yang selalu berharap adanya kehadiranmu. Engkau tau? Masa bodoh engkau perduli atau tidak perihal keadaanku. Tak perduli juga engkau menanyakan kembali atau tidak tentang bagaimana keadaanku. Yang harus engkau tau hanyalah perihal aku yang tak ingin engkau jatuh dan rapuh meskipun aku yang harus seperti itu. Yah setidaknya untuk saat ini biarkanlah aku begitu dan menikmatinya dengan waktu.

Bagaimana bisa dahulu engkau lukiskan semuanya dan sekarang memaksakanku untuk menghapusnya? Salahku terlalu terbawa suasana dulu dan menanggap semuanya akan berjalan sesuai kemauanku. Hai tuan sang penghapus luka pelukis lara. Sedang apa kamu? Malam yang kuhabiskan di sudut kamar ini sepertinya hanya waktu yang secara percuma terbuang untuk memarahimu lewat tulisanku yang tak kalah bawelnya dengan ucapanku. Hahaha, sekali lagi, maafkan semua dan sikapku yah. Begini lah aku, sifat burukku mungkin. Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sepatutnya tidak perlu aku pikirkan, termasuk kamu. Iya kan?? Haha tidak-tidak aku hanya bercanda perihal itu. Namun, satu hal yang aku ingin pinta kali ini kepadamu, yaitu waktu. Biarlah untuk sementara ini aku begini, sebab aku sungguh-sungguh butuh waktu untuk bisa melupakanmu dan tak lagi memperdulikanmu, aku butuh waktu cukup lama perihal itu. Bersabarlah menunggu waktu sampai aku bisa tak lagi mengganggumu. Bisa kan? Bolehkan? Lagian engkau tak akan perduli bukan dengan segala hiruk pikuk yang ada di kesaharian mu, iya kan?

Sudah lah… hanya itu yang ku mau. Selamat malam terimkasih.
-ars-
Malang, 28 Oktober 2018

Komentar

  1. Mampir yang ke blog saya curarahanhatiini.blogspot.com kita belajar bersama:)

    BalasHapus

Posting Komentar