Postingan

Teruntuk : Mentari Penghapus Luka Pelukis Lara

Mungkin semua hanya perihal waktu. Meskipun telah selama ini berlalu, sepertinya semua tak kunjung terhapus dari memoriku. Bahkan, semakin hari semua semakin rancu. Harus sekuat apa lagi aku? Harus berbuat seperti apa lagi aku? Mungkin definisi bertahan tak hanya perihal tentang menunggu kabarmu, namun juga tentang kesabaranku untuk kehilangan sosokmu, begitu? Definisi berjuang juga bukan hanya tentang bertahan menunggumu, namun juga tentang berjuang untuk melupakanmu? Bukan kah harusnya seperti itu? Dunia memang cukup adil sepertinya… Ada hitam ada putih, ada angin ada api, ada yang harus diterima kedatangannya seperti fajar, dan ada yang harus diikhlaskan kepergiannya seperti senja. Oh ayo lah… Aku tidak sekuat langit untuk menyambut kedatangan dan merelakan kepergian mentari sesering itu, berhenti lah menjadi sosok mentari itu dalam hidupku! Aku mohon… Kau pikir apa aku? Terlalu besarkah gengsi yang menyarang di dadamu? Terlalu risihkah dengan semua kelakuanku? Maaf saja, beg...

Biarlah Semua Telah Usai

Carikan aku tempat yang luas, seluas langit Agar aku dapat berteriak dengan keras, mengeluarkan seluruh rasa yang tak lagi mampu untuk ku pendam. Atau carikan aku tempat yang gelap, segelap dasar samudra Agar aku dapat menangis dengan bebas, menumpahkan segala rasa yang tak sanggup lagi untuk ku simpan. Dan datangkanlah kepadaku hujan deras Agar airmataku tersamarkan oleh setiap tetes rintikannya dan isakku tak terdengar sebab gemuruh petirnya. Sebab nyatanya semakin banyak yang ingin ku ucapkan, semakin tak satu pun kata dapat aku utarakan. Dan meskipun telah ku perjuangkan agar dapat aku tuangkan, nyatanya tak ada wadah yang mampu untuk menampungnya. Lalu aku memilih untuk diam, mengenang dengan tujuan untuk melupakan. Karena merelakan lebih menyesakkan, dari pada menghapus memori yang tak sepantasnya dikenang. Biarlah, semua telah usai. Berlalu terhapus waktu, hilang tertiup angin. -aruyasalsa-

Detik-detik

Bukankah seharusnya tidak ada perpisahan diantara kita setelah semua hari yang kita lalui bersama-sama? Aku tau, dulu di awal kita bertemu, seharusnya aku telah bersiap. Bersiap untuk merelakanmu pergi dalam keadaan apapun. Tapi ternyata? Aku terlalu lalai, terbuai dalam setiap canda dan tawa. Bahkan aku terlampau sedih, tersimpuh saat datangnya duka dan lara. Dan sebentar lagi. Hanya tinggal menghitung hari. Semua hanya akan menjadi memori. Seandainya engkau mengerti, aku hanya takut. Takut untuk kembali merasakan kehilangan. Meskipun aku tau, pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan. Tapi, bukan kah aku masih pantas untuk ingin tak lagi merasakan kesepian? Seandainya waktu itu terulang kembali Percayalah aku akan memilih untuk tidak mengenalmu. Atau aku akan tetap mengenalmu. Tapi  bukan dengan akhir yang seperti ini. Terserah, kamu bebas mengumpatku wanita egois, memang begitu kenyataannya. Sebab seandainya kau tau, hati ini terus menerus merindu. Nyatanya...

Jelmaku di Akhir Waktu

Ada kata ragu dalam hatiku saat pertamakali aku mengenalmu. Sebab kenyataannya dari awal aku memang tak ingin membukakan hati untuk siapa pun itu. Aku ingin tenggelam, jauh kedalam diriku sendiri, mengenal siapa aku, dan bagaimana kehidupanku. Namun kau sudah terlanjur menerobos masuk ke dalam hatiku saat itu. Menyeruakkan segala isi hatiku. Membacanya satu persatu. Mencoba mengerti apapun yang aku simpan rapih di situ. Kau lihat bahagia ku, kau lihat sedih ku, kau lihat cinta, kau lihat luka. Hingga sampai saat ini, "Kita sudah sama-sama memulai Kita sudah sama-sama melangkah Kita sudah sama-sama terjatuh Dan kita sudah melakukan semuanya bersama-sama Kelak suatu saat ketika kita harus saling meninggalkan Percayalah itu adalah salah satu misi kebersamaan kita Saat kita harus sama-sama menjauh Bahkan saat kita harus sama-sama melupakan." Dan sekarang... "Aku lah sang penanti waktu, yang memikirkan mu dalam penantianku. Aku lah sang penanti malam, yang terdud...

Derita Untukmu

     Aku tau bagaimana lelahnya menunggu. Aku tau beratnya rasa rindu. Dan aku tau betapa pahitnya semua itu. Tapi maaf, aku tetap saja harus membuatmu begitu.      Malam sendu mulai gerimis, ketika hati ini semakin terasa teriris. Walaupun seharusnya kamu yang menangis sebab aku yang selalu membuatmu tertepis.      Kamu tau? Ini aku yang berkata "Aku sayang padamu" . Tapi bahkan aku tak sanggup tuk memperjuangkanmu. Waktu kini tak dapat mendukungku dan malah semakin membuat jarak antara aku dan kamu.      Bahkan sebab aku, aku juga merasa cemburu. Aku lupa bagaimana rasamu kepadaku. Aku takut kamu tak lagi mencintaiku. Padahal, sampai saat ini aku tau kamu masih mempertahankan aku.      Kamu cinta, yang selalu ku buat terluka. Yang tak ada habisnya ku buat kecewa. Yang semakin sakit ku buat hatimu menderita, ketika semakin dalam rasa ingin saling bersama.      Te...

Dia

     Dulu, aku tak pernah terpikir untuk dapat jatuh hati sedalam ini pada sosok lelaki. Maksudku, aku tak menyangka kini aku dapat begitu tergila-gila olehnya. Bahkan bermimpi di milikinya aku tau jawabannya pasti "Aku Tak Mampu" . Tapi nyatanya, kini?      Aku berada dalam dekapan rindu yang selalu bergejolak kala hati tak dapat menemukannya bahkan walau hanya beberapa menit pun. Aku berada dalam kekesalan yang hebat ketika lagi-lagi aku tak dapat mengerti dirinya. Aku berada dalam jurang yang begitu dalam kala aku tau dia berusaha tegar di hadapanku walau kembali kutoreh luka di hatinya.      Terkadang aku selalu ingin menjadi selayaknya dia. Si pelukis senyum di bibirku, si perusak menitku, si penenang hatiku, si pencuri kekhawatiranku, si pengalih duniaku, dia, si pemeran utama dalam hidupku.      Tapi, sepertinya aku terlalu bodoh dan tak pantas untuk berada di sisinya. Karena seharusnya sejauh ini ...

Semua tentang Kamu

Menyadari setiap detik yang berlalu tanpamu, aku pilu. Kembali teringat tentang kisah kita dahulu, Yang akhirnya ku lepaskan demi masa depanku. Sungguh, sebenarnya tak sanggup untukku beranjak pergi dari setiap canda guraumu. Meninggalkan segala suka dan duka kita yang telah berlalu. Menjadikannya hanya sebagai untaian nada di lubuk hati yang membisu. Namun kini, aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Menguatkan sendiri hatiku yang kembali terasa rapuh. Bersama senyummu yang membuat hatiku terluka. Tanpa ada diriku dan kamu masih terlihat gembira. Bukan. Bukan berarti aku tak suka melihatmu bahagia. Tapi... Semua hanya karna bukan aku yang berhasil membuatmu tertawa. Hingga aku tak bisa berhenti tuk berharap, "Suatu saat ketika waktunya telah tiba, Aku dan kamu akan kembali bersama, Dengan hati yang telah memahami cinta, Dan bagaimana seharusnya saling menjaga." Aruyasalsa